PMI Asal Indramayu Butuh Perhatian Pemerintah
Usai Dipulangkan Dari Malaysia
Indramayu, Sergaptarget
Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Indramayu bernama Maryam (60) kini hidup dalam kondisi memprihatinkan usai dipulangkan dari Malaysia. Perempuan lansia tersebut tiba di tanah air dalam keadaan menderita stroke dan tanpa kepastian penanganan medis jangka panjang.
Meski sempat mendapat perawatan darurat dari relawan dan tenaga kesehatan setempat, hingga kini nasib dan kelanjutan hidup Maryam masih belum mendapat kepastian dari pihak terkait.
Salah seorang relawan, Lina, mengungkapkan bahwa Maryam sebelumnya ditemukan terlantar di Malaysia. Ia diduga bekerja sebagai PMI ilegal tanpa dokumen resmi dan tanpa pemberi kerja yang jelas.
"Berdasarkan alasan kemanusiaan, seorang warga Indonesia yang bekerja di Malaysia mengurus seluruh proses kepulangan Ibu Maryam, termasuk biaya tebusan di KBRI, agar beliau bisa kembali ke tanah air," ujar Lina.
Setibanya di Indonesia, Maryam sempat diantar ke satu-satunya kerabat yang tersisa, yakni kakaknya yang tinggal di BTN Lama Asrama Haji.
"Namun, kondisi kakaknya yang sudah lanjut usia dan mengalami keterbatasan ekonomi membuat perawatan Ibu Maryam tidak memungkinkan," jelas Lina.
Kondisi Kesehatan Memburuk Saat pertama kali tiba, Maryam diketahui menderita stroke tanpa luka fisik. Namun, setelah sekitar satu bulan tinggal di rumah kerabatnya, kondisi kesehatannya memburuk secara drastis.
"Ia ditemukan mengalami infeksi parah di beberapa bagian tubuh hingga menimbulkan aroma tidak sedap," ungkap Lina.
Beruntung, respons cepat dari para relawan serta bantuan tenaga medis, termasuk bidan desa, berhasil memberikan penanganan awal terhadap luka-luka tersebut. Saat ini, kondisi Maryam dilaporkan mulai berangsur membaik.
Untuk sementara, Maryam tinggal di rumah Ketua RT setempat dan dikategorikan sebagai lansia sebatang kara, mengingat minimnya dukungan keluarga yang mampu secara fisik maupun finansial.
Lina bersama tim relawan, termasuk dari Jabar Bergerak, mengetuk kepedulian pemerintah daerah, instansi terkait, serta para dermawan untuk memberikan perhatian serius terhadap kondisi Maryam.
"Kami berharap ada penanganan medis berkelanjutan untuk penyakit stroke dan pemulihan luka infeksi, kepastian tempat tinggal yang layak seperti panti sosial lansia, serta bantuan logistik dan kebutuhan dasar sehari-hari," katanya.
"Intinya, Ibu Maryam hidup sebatang kara. Ia sangat membutuhkan kepedulian semua pihak agar bisa menjalani sisa hidupnya dengan lebih layak," pungkas Lina.

